Tampilkan postingan dengan label KESELAMATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESELAMATAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2009

KESELAMATAN TANGAN

Pernahkan anda melihat teman anda dengan jari yang kurang dari sepuluh, atau ruas jarinya sudah tidak lengkap sebagaimana seharusnya akibat kecelakaan kerja, atau sebagian ruas jari yang kedudukannya sudah tidak sempuna lagi seperti dialami banyak pemain bola volley atau kiper sepakbola, atau karena kecelakaan ketika kita sedang melakukan hobi kita.
Coba sekarang anda lakukan gerakan mengancingkan buah baju tetapi jangan menggunakan ibu jari anda, seolah olah ibu jari anda sudah terpotong karena kecelakaan. Pasti anda akan mengalami kesulitan. Apalagi kalau akibat kecelakaan kita harus kehilangan telapak atau bahkan lengan kita, sulit dibayangkan kesulitan yang kita hadapi. Juga bagaimana kita akan memakai cincin pertunangan atau perkawinan kita bila kita tidak punya jari manis.

Karena itulah, sepasang tangan dan sepuluh jari dan ruas-ruasnya ini harus kita jaga dengan baik. Masing masing tangan dan setiap ruas jari jari yang ada di tangan kita ini diciptakan oleh Tuhan dengan kegunaan masing masing. Tangan dan jari kita harus kita lindungi ketika agar tidak sampai celaka. Kecelakaan yang memungkinkan terjadi pada tangan dan jari kita adalah terjepit, tergores, terpotong, tertimpa, dsb.

Sebagai alat pelindung diri untuk tangan yang lazimnya dipakai adalah sarung tangan, tetapi tentu jenisnya berbeda-beda tergantung dari jenis bahaya dan pekerjaan yang akan dilakukan. Untuk hal itu tentunya sebelum kita memutuskan jenis sarung tangan yang akan dipakai kita harus mengadakan kajian tentang jenis pekerjaan, bahaya bahaya yang ada serta resiko yang mungkin terjadi.
Kalau anda memerlukan diskusi lebih lanjut untuk hal ini, hubungilah kami di
sudjonadi@yahoo.com dengan senang hati kami berbagi ilmu keselamatan dengan anda.

BUDAYA KESELAMATAN (SAFETY CULTURE)


Budaya keselamatan atau “safety culture” kita artikan saja sebagai kelakuan umum atau adat istiadat keselamatan dari satu kelompok masyarakat yang didasari oleh batasan batasan tata nilai keselamatan untuk manusia dan lingkungan untuk mewujudkan visi Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan. Untuk membangun budaya keselamatan harus dimulai dengan VISI yang dalam dan tajam untuk membangun budaya keselamatan. Setelah visi dibuat, kita tentukan peran kita dalam mencapai visi tersebut. Setelah Visi dan Peran kita tentukan, tentunya kita harus punya komitmen tentang tata nilai yang didasari oleh prinsip prinsip utama sebagai pedoman dasar, misalnya:
- Utamakan Keselamatan atau Keselamatan adalah prioritas utama.
- Selalu ada proses untuk mengerjakan dengan selamat
- Semua kecelakaan bisa dihindarkan
- Kondisi NOL kecelakaan bisa diwujudkan asalkan ada komitmen yang kuat
- Semua pekerjaan harus direncanakan untuk diselesaikan dengan keselamatan
- Begitu kita melihat, kita ikut bertanggung jawab
- Keselamatan adalah tanggung jawab semua orang
Pernyataan dasar tersebut memang terasa terlalu idealis, lebih baik kalau dipetajam lagi sehingga bisa menjadi semacam kode etik keselamatan, seperti misalnya:
- Patuhi semua aturan dan perundangan keselamatan yang berlaku
- Kelola lingkungan dengan bijaksana
- Rubah kondisi lingkungan seminimal mungkin dengan manfaat semaksimal mungkin.
- Patuhi batas batas keselamatan, lingkungan dan perencanaan.
- Pastikan adanya alat pengaman, terkontrol serta reliabel bila diperlukan
- Dsb.
Penajaman aturan aturan dasar ini bisa bermacam macam tergantung dari kondisi dan lingkup usaha masing masing perusahaan atau kelompok masyarakat itu. Lebih penting lagi hal ini tentunya harus menjadi komitmen resmi perusahaan atau kelompok itu.
Agar supaya prinsip utama diatas beserta penajamannya bisa dimengerti para anggotanya harus diadakan sosialisasi dan pelatihan dan secara tulus harus menjadi komitmen mereka masing masing, kalau perlu dikaitkan dengan program penghargaan dan hukuman (reward and punishment) .
Memang dalam tahapan pendahuluan ini terkesan seperti dipaksakan akan tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, dan setiap orang melaksanakan program keselamatan dengan penuh keihklasan dan ketulusan, maka itu artinya budaya keselamatan sudah meresap dalam kelompok masyarakat atau pada perusahaan tersebut. Tantangan selanjutnya adalah menjaga dan meningkatkannya karena sebagaimana bidang bidang yang lain, keselamatan ini juga berkembang.....

Jumat, 10 Oktober 2008

KESELAMATAN VS KEAMANAN

Untuk menjaga keamanan, orang memasang teralis disemua jendela, pintu atau lobang lobang yang lain di rumahnya. Karena masih juga belum terasa aman, dipasang lagi tembok tinggi disekelilingnya. Amankah mereka sekarang… mungkin merasa aman. Tetapi bagaimana dari segi keselamatan? Bagaimana bila terjadi kebakaran atau ada gempa bumi yang mengharuskan mereka segera keluar dari bangunan itu dengan segera?  

Tidak jarang dalam peristiwa kebakaran, ada korban jiwa yang melayang karena terperangkap didalam rumah. Mereka terperangkap karena tidak bisa keluar. Panik dan bingung, mereka lupa dengan situasi rumahnya. Sebelum kesadaran timbul, api telah menyambar mereka. Kalau kita ingat beberapa bencana gempa yang lalu, berapa jiwa yang terperangkap karena tidak sempat keluar dari rumah…

Memang kita harus mempertimbangkan keamanan, tetapi juga jangan lupakan keselamatan. Untuk membuat kedua hal itu tersedia setiap saat, ada beberapa cara yang bisa dipakai. Tidak salah orang memasang teralis, tetapi hendaknya teralis itu bisa dibuka dengan gampang oleh setiap penghuni rumah itu dari dalam. Bagaimana caranya? Mudah… banyak caranya. Salah satu caranya adalah walaupun semua lobang jendela dan pintu dipasang teralis, tetapi hendaknya ada satu atau dua lobang yang teralisnya bisa dibuka dengan mudah dari dalam. Hal ini dimungkinkan dengan konstruksi memakai engsel khusus atau paku khusus. Tentunya cara pemasangan dan lobang yang mana, ini hanya diketahui oleh penghuni saja. Dengan demikian penghuni rumah itu bisa keluar dengan segera bila diperlukan. Dengan cara ini keselamatan tetap bisa didapatkan dan rasa keamanan juga tetap terjamin.. 

Sayangilah jiwa yang hanya satu ini ....... 


Sabtu, 16 Agustus 2008

ALAT PELINDUNG DIRI


Walaupun dalam suatu sistim pekerjaan beberapa alat pengaman secara mekanis dan elektrik telah dipasang, seperti katup pelepas tekanan, lampu-lampu pengaman, detektor asap, dsb., tetapi setiap pekerja masih diwajibkan memakai alat pengaman diri (APD). Karena pada hakekatnya APD adalah merupakan sistim pengaman terakhir untuk pekerja. Alat Pelindung Diri (APD) di tempat kerja harus dilihat dalam kontek sebagai pengaman pekerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.  
Alat pelindung diri itu, antara lain, terdiri atas :
• Pelindung kepala
• Pelindung mata dan wajah
• Pelindung tangan
• Pelindung badan 
• Pelindung telinga 
• Masker dan alat bantu pernafasan
• Sabuk pengaman
• Pelindung kaki
Pemberi kerja bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bahaya pada pekerjaan yang akan ditangani, serta menentukan jenis APD yang sesuai untuk mengurangi atau menghilangkan risiko kecelakaan pekerja. Dalam melakukan identifikasi dan evaluasi bahaya yang ada, hendaknya dilakukan oleh bagian keselamatan dengan bagian operasi secara bersama. Sehingga setiap kemungkinan bahaya ditinjau dari sisi kejadian yang ada sehari hari serta dari sisi petinjuk petunjuk keselamatan kerja yang lazim. Segala bahaya fisik, biologis serta kimiawi harus tercakup dalam evaluasi ini. Setelah bahaya di-identifikasi dan di-evaluasi, selanjutnya dipilih jenis alat pelindung diri yang tepat untuk melindungi diri pekerja dari bahaya tersebut.
Pelatihan untuk para pekerja dalam pemakaian alat pelindung diri juga perlu dilaksanakan sehingga APD ini bisa dipakai dengan benar dan efektif. APD harus sesuai standard desain yang ada seperti ANSI, OSHA, NFPA, dll.
Dalam pemeliharaannya APD harus disimpan dalam kondisi yang bersih dan sehat, seperti dalam lemari khusus. Setiap pekerja hendaknya diberikan APD sendiri sendiri sehingga ukuran dan modelnya benar benar pas. APD untuk masing masing pekerja bisa berbeda karena APD ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dan bahaya yang ada pada jenis pekerjaan tersebut.
APD juga bisa rusak karena paparan matahari atau pengaruh cuaca yang lain. Maka sebelum memakai APD hendaknya diperiksa dahulu keadaannya. Bila ada tanda tanda kerusakan maka APD itu harus segera diganti.

Selanjutnya uraian masing masing jenis APD akan tersedia pada info mendatang.